Wednesday, September 5, 2007

Saya memiliki siang

Menjadi freelancer membuat saya menemukan siang. Dulu saat kerja kantoran saya hanya mengenal pagi dan malam. Pagi dan malam adalah milik saya. Siang milik kantor. Terkadang kantor nakal, ia mengambil pagi dan malam saya juga.

Sekarang saya memiliki siang. Ya, siang saya. Siang yang bisa saya isi apa saja, bebas semau saya. Bebas melakukan apa saja, terserah saya. Termasuk yang dulu tabu atau tak bisa saya lakukan. Apa aja?

- Nonton.
Bersama seorang teman sesama freelancer, saya nonton Kamis siang. Agak sedikit aneh memang. Apalagi sebelum nonton saya sempat ketemuan dengan dua teman yang tidak memiliki siang alias kerja kantoran. Sebenarnya saya sudah provokasi mereka sekuat tenaga agar bolos barang 2 jam dan nonton. Hasilnya, nol besar, mereka tidak terprovokasi. Ya iyalah….

Saat masuk studio hanya ada 4 orang, termasuk saya dan teman. Saya bilang ke teman saya, “wah, kita pemilik 25% saham studio ini.” Dia tertawa mengiyakan. Hingga film berakhir ada 10 orang yang nonton, wah, saham saya turun jadi 10%... hahaha.

Terus terang saya sedikit menyesal, kenapa dulu nggak sempat ‘nakal’: bolos siang buat nonton, hehe.

- Tidur siang, tidur siang, tidur siang!!!
Menyenangkan sekali, meski saat bangun saya sempat hilang frekwensi: hari ini sabtu apa minggu ya… Saya adalah penyuka tidur, jadi menemukan tidur siang laksana oase di padang pasir, hahaha.

- Pengajian.
Dulu agak sulit saya lakukan. Senang rasanya sekarang bisa membuat siang yang gerah menjadi lebih sejuk.

Ah, senangnya… saya memiliki pagi, siang, dan malam…

Benda - Sabtu, 1 september, 2007, 2:02 am

Penyejuk hati

Saat gundah melanda, kiriman seperti ini bisa menyejukkan hati.
Dari Ateq dan Agil... adek-adekku yang ganteng ;p

Akan Selalu Ada Bunga Untukmu

Bila ada satu titik hitam dalam diri
Bukankah selalu ada putih yang menyelimuti

Bila awan begitu gelap
dan hujan turun dengan derasnya
Bukankah akan ada pelangi yang indah menemani

Bila luruh dan rapuh ada dalam diri
Bukankah ada Dia yang selalu ada dalam hatimu
Memelukmu hangat
Menenangkan...

Dan bila semua itu telah berlalu
Akan selalu ada bunga untukmu
Selalu
Selamanya!

Jkt, 13/04/07
Ahmad Muttaqin

---

Andai ku bisa ku ingin ada di sampingmu
Andai ku bisa ku ingin menemanimu
Andai ku bisa ku ingin mendampingimu
Tapi sekarang hanya do’aku yang bisa menemani
Jaga kesehatan selalu

16 Juni 2007
Agil

Monday, September 3, 2007

Menjadi bahagia

11.17 malam - hp berbunyi, sebuah sms dari seorang teman lama di Bandung.

"Shob, menurut kamu bisa nggak kita bahagia seperti dalam dongeng"

Please... mata sudah siap merem, posisi enak untuk tidur sudah saya temukan. Ya, saya agak bermasalah menemukan posisi tidur yang 'pw': tangan di bawah kepala atau di samping, kaki ditekuk atau lurus, mau miring atau telentang...

Bahagia... emmmh, mau nggak mau mata jadi agak melek. Ya, siapa yang nggak mau bahagia. Coba, kalau saya tanya, "siapa yang tidak ingin bahagia?" Saya yakin tak satu tangan pun teracung.

Menjadi bahagia adalah keinginan tiap orang. Naluriah. Tapi bahagia versi dalam dongeng adalah bahagia penuh luka, duka dan air mata. Oke, bahagia terkadang menjadi akhir dari sebuah perjuangan. Tapi nggak perlu gitu-gitu amat kali yah. Coba deh, mungkin kita bisa bahagia dengan hal remeh temeh yang selama ini nggak kita sadari.

Saya bersyukur gampang sekali dibuat senang, dibuat bahagia (hehe, gampang juga dibuat marah). Ketika bos (dulu) sms 'thx' atau 'good job' saya happy. Pakai seprei baru dicuci, saya langsung bisa tidur nyenyak. Keponakan bikin surat ke saya yang cuma ditulisi 'bunda shobi' (karena baru itu yang bisa dia tulis dengan bantuan ayahnya) saya senang. Ketemu segelas jus setelah muter-muter di tanah abang dan yang dicari nggak ketemu, saya langsung adem.

Bahkan naik mobil aja bisa bikin saya bahagia. Naik mobil nggak mesti jalan-jalan. Asal naik mobil aja, saya sudah senang... hehe. Teman saya Mas Anto sampe bilang, "gampang banget bikin kamu happy, cuma muter-muter naik mobil aja senengnya minta ampun..." Hahaha. Apalagi kalo saya dikasih gift atau oleh-oleh... wuaahaah, happy tenang.

Hhhmmm... mungkin yang terpenting kita selalu mencoba mensyukuri yang kita terima ya. Itu aja dulu. Itu akan membuka pintu-pintu bahagia. Jadi nggak usah muluk-muluk.

Ibuk saya selalu berpesan, "apa yang terjadi dalam hidup ini dijalani, dinikmati, disyukuri." Terus terang saya senang mendengarnya, meskipun pesan ini berulang-ulang saya terima (bener, sering banget, kalau saya telpon 4 kali, 2 kalinya pasti ada, hihi).

"Lis, menjadi bahagia tak perlu jadi putri dalam dongeng. Bahagia adalah hak kita. Bisa kita miliki. Dan yang terpenting, kita sendiri yang bisa menciptakannya."